Pemerintah Tambah Impor Aspal

Koran Tempo 24 Juli 2008

 

Jakarta - Direktur Jenderal Bina Marga Hermanto Dardak mengatakan pemerintah terpaksa akan meningkatkan impor aspal, seperti dari Shell dan ESSO. Langkah ini sebagai antisipasi jangka pendek terkait dengan kebijakan Pertamina yang akan menghentikan produksi aspal pada Agustus nanti.

 

Meski harga impor jauh lebih mahal Rp 1.500 per kilogram dibandingkan produksi Pertamina, Hermanto mengatakan hal itu belum tentu membuat biaya pemeliharaan jalan beraspal membengkak.

Sebab, jalan beraspal akan lebih banyak menggunakan metode daur ulang. “Aspal Buton lebih didorong fully extracted (ekstraksi penuh dalam bentuk aspal, bukan batuan),” kata dia setelah meninjau jalan layang Ciputat kemarin.

 

Antisipasi lain menghadapi keterbatasan pasokan aspal, Hermanto melanjutkan, akan digunakan metode recycling (daur ulang) dan penggunaan pengerasan menggunakan beton. “Khusus untuk jalan baru, akan menggunakan beton karena lebih tahan lama dan kuat,” ujar Hermanto.

 

Akhir pekan ini dia akan bertemu dengan Asosiasi Aspal Beton Indonesia untuk membicarakan strategi terhadap pengurangan pasokan aspal.

 

Dari kebutuhan aspal dalam negeri sebesar 600 ribu ton, Pertamina memenuhi 400-500 ribu ton. Sisanya diakomodasi produk impor, seperti Shell dan ESSO. Karena itu, Hermanto menyarankan agar Pertamina mengurangi pasokan aspal secara bertahap supaya tak mengganggu kelancaran pekerjaan infrastruktur.

 

Secara terpisah, Direktur Bina Teknik Danis Sumadilaga mengatakan potensi batu aspal (rock asphalt) Buton di Indonesia mencapai 600 juta ton. Kandungan aspal yang dapat diekstrak dari jumlah itu 20-25 persen atau 120-150 juta ton. Dengan demikian, diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga 100 tahun bila rata-rata kebutuhan 1-1,2 juta ton per tahun.

 

Dibandingkan dengan aspal konvensional, kata Danis, penggunaan aspal Buton masih lebih sedikit. Dari target 25 ribu ton, baru tercapai 18 ribu ton. Ia mengakui investasi membangun instalasi ekstraksi aspal Buton perlu biaya minimal US$ 30 juta untuk kapasitas 150 ribu ton.

 

Akibatnya, belum banyak investor Indonesia yang tertarik menggarap bisnis ini(Reika Rahadiana)

 

 

 

Back